Profil Mas Den Bagus Prasetyo

Foto Saya
Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia
Ngono yo ngono, tapi yo ojo ngono Ojo lali Follow Twitter ku ya @Adden_

Minggu, 27 Mei 2012

Analisis Puisi Diponegoro


DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Februari 1943)

A.    Struktur Fisik
1.      Diksi (pemilihan kata)
Chairil Anwar dalam puisinya Diponegoro menggunakan kata yang mudah dipahami, sebagai contoh: “tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali”.
2.      Pengimajian (imagery, pencitraan)
Pengimajian dapat dibedakan menjadi imaji auditif, imaji visual dan imaji taktil.
Imaji yang digunakan adalah imaji taktil, “dimasa pembangunan ini tuan hidup kembali” kalimat tersebut apabila dibaca kapan saja akan relevan dan kita akan merasakan untuk ikut membangun peradaban bangsa.
3.      Kata konkret
Jika imaji pembaca merupakan akibat dari pengimajian yang diciptakan peyair, maka kata konkret ini merupakan syarat atau sebab terjadinya pengimajian itu. Dengan kata lain diperkonkret, pembaca dapat membayangkan secara jelas atau keadaan yang dilukiskan oleh penyair. Untuk membayangkan semangat Diponegoro chairil anwar menggunakan kata maju, serbu, serang, terjang.
4.      Bahasa Figuratif (Majas)
Dalam puisi Diponegoro saya menemukan majas perbandingan, hiperbola yaitu pada “Ini barisan tak bergenderang-berpalu”. Kalimat tersebut dikategorikan sebagai majas hiperbola karena melebih-lebihkan barisan yang bergenderan-berpalu.
5.      Versivikasi
a.       Rima
Dengan pengulangan bunyi, puisi menjadi merdu jika dibaca.
Pada bait pertama bunyi yang cukup dominan adalah / i/

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
b.      Ritma
Yaitu pemotongan frasa-frasa yang diulang.
Pemotongan frasa-frasa dalam puisi Diponegoro tiap baris.

Punah di atas menghamba/
Binasa di atas ditindas/
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai/
Jika hidup harus merasai/
6.      Tata Wajah
Diponegoro merupakan puisi yang masuk dalam kategori konvensional sehinnga baris dan bait yang digunakan masih seperti puisi sebagaimana umumnya, namun walaupun konvensional Chairil Anwar tidak terpaku dengan aturan-aturan puisi pada periode sebelumnya.
B.     Struktur Batin
1.      Tema
Tema merupakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Tema yang saya tangkap setelah membaca puisi Diponegoro adalah patriotisme atau kebangsaan, karena setelah membaca puisi tersebut dapat menumbuhkan semangat pembaca.
2.      Perasaan
Perasaan penyair yang satu dengan yagn lain berbeda-beda, Chairil Anwar dalam puisinya Diponegoro mengagumi pahlawan itu dan bermaksud untuk memberi nasehat kepada pembaca agar kepahlawanan Diponegoro menjadi apai pembangunan.
3.      Nada dan Suasana
Nada revolusioner dan semangat hendak diungkapkan Chairil Anwar dan itu berhasil pada semua bait, terlebih pada bait berikut:

Maju
Serbu
Serang
Terjang
4.      Amanat (Pesan)
Dari tema patriotisme yang dikemukakan Chairil Anwar yang dikutip didepan, kiranya dapat ditafsirkan amanat sebagai berikut “Di masa pembangunan ini” hendaknya kita mencontoh sifat patriotic beliau yang berjuang tanpa pamrih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar